Home Serba-serbi Sangkar Burung dari Bambu dan Segala Resiko yang Dihadapi Pengrajin

Sangkar Burung dari Bambu dan Segala Resiko yang Dihadapi Pengrajin

2540
0

Banyumas – Banjarsari, sebuah desa di wilayah Ajibarang Banyumas, adalah desa yang di kenal sebagai sentra kerajinan bambu. Banyak diantara warganya yang bermata pencaharian sebagai pengrajin bambu, karena bambu adalah tanaman yang banyak tumbuh di wilayah tersebut.

Desa Banjarsari juga di kenal luas oleh para hobiis burung dalam wilayah sekitar. Bukan karena ada banyaknya burung yang terdapat di desa tersebut, akan tetapi dalam kaitannya dengan status desa tersebut sebagai desa penghasil kerajinan sangkar burung dari bambu.

Industri pembuatan kerajinan sangkar burung merupakan usaha yang dijalankan secara turun temurun di wilayah tersebut, meski sudah mulai tersentuh dengan peralatan modern seperti gerinda listrik, hasil akhir tetap dikerjakan secara manual.

Setiap hari para perajin mampu menyelesaikan enam hingga 10 buah sangkar, pekerjaan dimulai dengan memotong bambu, mengebornya hingga proses perautan. Pemrosesan secara manual adalah di maksudkan untuk mendapat kualitas handmade yang di percaya lebih baik di banding pemrosesan mekanik modern.

Pemilihan sangkar burung dari bambu sebagai produk dari para pengrajin adalah karena proses pembuatan sangkar burung tidaklah memakan waktu yang lama, sehingga mereka bisa cepat mendapatkan hasilnya. Selain itu naiknya pamor sangkar burung di mata hobiis burung rumahan adalah karena mahalnya biaya yang di keluarkan untuk mendapatkan sangkar burung dari besi. Meski begitu, sebenarnya margin yang di dapat pengrajin sebenarnya tidaklah banyak, karena pengeluaran untuk membeli bahan baku sangkar kini harganya terus merambat naik.

Salah satu resiko yang di hadapi oleh pedagang dan pengrajin sangkar burung dari bambu ini adalah fluktuasi omset yang terkadang bisa anjlok jauh. Namun hal ini bisa di maklumi oleh para pengrajin, karena mereka menyadari, produksi kerajinan mereka adalah komoditas hobi yang susah di terka titik naik dan titik jenuhnya.

Dikisahkan oleh salah satu pengrajin di desa tersebut, harga satu batang bambu mencapai Rp 7.000, kayu Rp 2.000 serta paku yang harganya tidak menentu di pasaran. Setelah jadi satu sangkar ukuran sedang dihargainya antara Rp 10.000 hingga Rp. 15.000, ukuran kecil Rp. 8.000, untuk ukuran yang besar biasa di kenakan harga mulai dari Rp 15.000 hingga 100.000.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here