Home Serba-serbi Kisah Pengrajin Payung Juwiring Bertahan dari Gerusan Masa

Kisah Pengrajin Payung Juwiring Bertahan dari Gerusan Masa

1145
0

Klaten – Juwiring adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Klaten yang secara letak berada jauh dari pusat Kota Klaten dan lebih dekat dekat dengan Kota Solo. Kecamatan Juwiring ini dikenal di nusantara sebagai daerah penghasil payung, seperti halnya Tasikmalaya.

Masyarakat di tiga desa di Juwiring, yakni Kwarasan, Tanjung, dan Kenaiban hampir seluruhnya terlibat pekerjaan produksi payung, dari mulai memotong bambu, membuat rangka, menyulamnya dengan benang, hingga melukis payung.

Khususnya pada wilayah desa Kwarasan, pada era 1970-an Desa yang berlokasi sekitar 22 km ke arah timur laut dari kota Klaten ini terdapat payung warna warni yang memenuhi rumah-rumah penduduk. Di halaman yang luas, payung-payung berjajar dijemur. Sepanjang hari, orang-orang desa sibuk memotong dan megelem kertas, melukis gambar bunga, angsa, memotong bilah-bilah bambu untuk jeruji payung. Mereka juga membelah kayu-kayu pohon melinjo, memotongnya, kemudian menjemurnya hingga benar-benar kering untuk dibuat sebagai kerangka payung.

Sungguh di sayangkan jika keadaan saat ini hanya ada 11 perajin payung di tiga desa itu. Jika ditambah pembuat rangka atau jeruji, tercatat 50 orang yang masih setia menekuni produksi payung. Di Kwarasan sendiri hanya tercatat 11 perajin payung termasuk beberapa tenaga pembuat jeruji (kerangka) payung dan tenaga pelukis.

Satu perajin di Desa Tanjung dan dua perajin di Desa Kaniban yang merupakan tetangga Desa Kwarasan. Sebagian besar lainnya beralih menjadi perajin sangkar burung, pedagang, dan buruh tani. Dari 11 perajin ini pun hanya dua perajin kakak beradik yang rutin mendapat pesanan, yaitu Hanacaraka, dan Wisnu.

Kini, payung – payung Juwiring diproduksi untuk keperluan payung kematian, ritual acara adat seperti ngaben, payung untuk dekorasi pernikahan dan panggung, pesanan kraton, hotel, dan kafe. Salah seorang pengrajin mengatakan bahwa alasan utama dia masih bertahan menjadi pengrajin payung Juwiring adalah karena merasa warisan leluhur yang harus diteruskan dan dilestarikan. Kepercayaan keraton menjadi spiritnya.

Pemilik sanggar payung wisnu mengaku saat ini masih mampu memproduksi 300 unit per bulan, dengan harga berkisar antara 50.000-3,5 juta/unit. Harga per unit payung Juwiring tergantung dari ukuran, kalau yang kecil biasanya di jual per kodi dengan harga 100.000. Karya seni asal Klaten ini pun melanglang sampai Bali bahkan menjadi bagian utama dalam ritus Ngaben. Tak ada payung Juwiring ritus itu tak lengkap.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here