Home Serba-serbi Meraup Berkah Rupiah Dari Koran Bekas

Meraup Berkah Rupiah Dari Koran Bekas

787
0

Berawal dari uji coba membuat kerajinan dari koran bekas dan untuk mengelola sampah di lingkungan sekitar rumahnya, siapa sangka Sumiyati (42) kini mampu meraup berkah rupiah.

Ditemui di rumahnya yang sekaligus menjadi bengkel produksi kerajinan daur ulang sampah yang di beri nama Killisa Design, Sumiyati mengaku bahwa awalnya ia merasa jenuh membuat kerajinan dari bahan-bahan pabrikan. Kemudian dirinya dengan dibantu suaminya, Didik Edi Prayitno membuat inovasi baru dengan mengembangkan kerajinan berbahan dasar kertas koran bekas. Hingga akhirnya ia memiliki keterampilan seperti sekarang ini.

koranbekas

“Jadi usaha yang kami jalankan di sini yang pertama adalah menghasilkan produk daur ulang dari bahan baku limbah dan yang kedua memberikan pendidikan dan pelatihan atau diklat mengenai pengelolaan dan pemanfaatan limbah,” ujarnya ketika ditemui BanyuwangiTIMES di rumahnya, jl. M.H Thamrin No 25 Perum PKBR Giri Banyuwangi.
Awalnya bisnis kerajinan daur ulang sampah ini dirintis sejak tahun 2014, namun saat itu baru tahap uji coba. Sementara yang membuat desain adalah sang suami. Sedangkan pengerjaan pembuatannya dibantu oleh anak-anak Sumiyati sendiri.

“Saat ini yang baru bisa membuat kerajinan, ya saya, suami dan anak-anak. Kami belum memiliki tenaga pengrajin,” katanya.

Sumiyati mengaku, sebelum terjun di kerajinan daur ulang kertas koran, ia sudah terbiasa dengan melakukan kegiatan penataan dekorasi. Maklum, saat ini, Sumiyati juga menjalankan usaha dekorasi untuk pernikahan maupun kegiatan perkantoran. Sentuhan pembuatan kerajinan berbahan kertas Koran tersebut, sedikit banyak menjadi bagian dari inovasinya.

“Alhamdulillah, untuk pemasaran sendiri tidak terlalu sulit. Karena semua hasil kerajinan kami langsung ada yang mengambilnya. Terutama dari Bali,” tuturnya.

Produk kerajinan daur ulang sampah kertas koran bekas yang Sumiyati produksi diantaranya adalah sandal hiasan menara Eifel, Monas, kap lampu, baki, toples, candi, figura, undangan dan masih banyak lagi tergantung pesanan dari konsumen. Bahkan banyak juga pesanan datang dari luar Banyuwangi. “Harga jual produk sangat beraneka ragam mulai dari harga Rp 15 ribu hingga Rp 250 ribu,” ujarnya.

Termotivasi karna ada unsur sosial

Selama ini Sumiyati termotivasi untuk menjalankan usaha ini karena unsur sosial dan juga peduli terhadap lingkungan hidup. “Yang selalu saya tanamkan dalam diri saya dan orang-orang yang datang kesini adalah bahwa sampah jika tidak kita kelola dengan benar maka akan menimbulkan masalah yang sangat serius, namun jika sampah tersebut kita kelola dengan baik maka akan menjadi berkah bahkan menjadi rupiah,” pesan wanita yang juga mampu menghasilkan kerajinan selama satu bulan diatas 50 item produk tersebut.

“Biasanya guru-guru sekolah yang memesan di sini untuk bahan edukasi murid-murid sekolah. Kami sering kewalahan untuk memenuhi permintaan karena kami tidak memiliki tenaga pekerja,” ucapnya.

Kedepannya ia berharap agar usaha ini bisa jalan dengan baik. Sedangkan untuk jangka panjang Sumiyati berharap masalah sampah nantinya dapat diatasi dengan baik dengan membuat pusat pengolahan sampah terpadu mulai dari pemilahan sampah, bank sampah, hingga mengolah sampah menjadi produk baru yang bernilai jual tinggi di pasaran.

“Selain kertas, kami juga mulai membuat kerajinan dari bahan plastik untuk membantu pengurangan sampah di Banyuwangi.” Ujarnya.

Mungkin hanya ini yang dapat kami ulas tentang ibu Sumiyati, sumber Banyuwangi TIMES.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here