Home Serba-serbi Kerajinan Daun Kering Potensi Lain dari Gunung Kidul

Kerajinan Daun Kering Potensi Lain dari Gunung Kidul

1874
0

Gunung Kidul – Kekayaan alam tropis di Indonesia sejatinya memiliki potensi ekonomi yang seakan tak ada batasan nilainya. Dengan modal kreatifitas, dedaunan dari pohon yang tumbuh bebas di sekitar lingkungan hidup sehari-hari saja bisa menjadi tambang rupiah yang jumlahnya tidak kecil seperti misalnya usaha Kerajinan Daun Kering Di Gedangsari, Gunungkidul ini.

Adalah bapak Saijo, warga Dusun Magirejo, RT/w 04/02 Desa Ngalang Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul Yogyakarta. Ketajaman visi berwirausaha dan kreatifitasnya memanfaatkan dedaunan yang diolah menjadi aneka kerajinan tangan, tidak hanya menjadi sumber ekonomi keluarganya tapi bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi para tetangganya.

bingkai foto dari daun kering
bingkai foto dari daun kering

Pada tahun 1999, Saijo, seorang buruh kerajinan kayu dari Desa Ngalang, Gunungkidul berkeinginan untuk menjadi pengrajin yang mandiri. Maka mulailah Bapak Saijo membuat produk kerajinan dengan memanfaatkan daun-daun kering. Dedaunan yang diolah, seperti daun kupu-kupu, daun coklat, daun mahoni, daun pisang atau daun lamtoro. Ia juga mencoba memanfaatkan beberapa jenis dedaunan lainnya, mungkin juga bisa digunakan. Namun sampai saat ini konsumen lebih banyak menyukai daun kupu-kupu. Mungkin karena bentuknya unik, seperti kupu-kupu.

Hasil-hasil kerajinan daun kering produksinya kemudian ditawarkan kepada para pengepul di wilayah Kasongan, Yogyakarta. Kelompok ini memproduksi beragam produk kerajinan daun kering seperti kotak tissue, blocknote, tempat sampah, kaca, bingkai foto, alas piring, odner, tempat pensil, kotak perhiasan, undangan dan lain-lain yang berlapiskan daun sehingga tampak unik diminati para pedagang. Belakangan diketahui bahwa produknya dibeli oleh para wisatawan asing yang berkunjung ke Yogyakarta. Sehingga hasil karyanya pun bisa merambah hingga ke mancanegara seperti Belanda, Kanada dan Amerika.

Rata rata produk yang ditawarkan karena berdimensi kecil hingga menengah maka harganya pun cenderung ringan pula di kantong. Misal untuk tas mini di hagai di kisaran Rp 30.000 dan untuk item yang lebih kecil maka hargany akan lebih rendah lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here