Home Serba-serbi Antara Kerajinan Kain Songket Sukarara dan Subahnala

Antara Kerajinan Kain Songket Sukarara dan Subahnala

2503
0

Jika selama ini Lombok terbang tinggi dengan pariwisatanya, kini seiring dengan lebih dikenal luasnya lombok maka sudahlah jamak jika kemudian muncul hal yang khas lagi dari Lombok selain pariwisata. Caranya dengan menawarkan beberapa kreativitas seni dan budayanya, di antaranya melalui kain tenun songket Sukarara.

Sentra kerajinan tenun Lombok terletak di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggot, Kabupaten Lombok Tengah. Sentra tenun ini terletak di dekat pasar dan masjid di Sukarara. Di tempat tersebut dapat ditemukan beberapa rumah yang menyediakan tenun, dan disinilah pusat penjualan berbagai tenun Lombok.

Desa ini terletak sekitar 20 kilometer (km) ke arah selatan dari Mataram, ibu kota NTB. Di desa ini terdapat puluhan industri rumah tangga tenun songket. Seluruh pengrajin yang menenun kain di sini adalah adalah kaum perempuan. Dengan menggunakan alat kayu tradisional, penduduk Desa Sukarara menghasilkan bermacam jenis kerajinan yang menjadi souvenir khas Pulau Lombok. Seperti pakaian tradisional, taplak meja, selimut, dan selendang dengan motif-motif yang indah serta tenunan berkualitas. Karena hasil karya yang berkualitas tersebut, desa ini kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung domestik maupun mancanegara.

penenunan kain di Sukarara
penenunan kain di Sukarara

Ada bermacam bahan dasar yang biasa digunakan untuk kain tenun songket Sukarara. Seperti benang katun, nilon, sutra, benang perak dan benang mersis yang di datangkan dari luar Pulau Lombok. Sedangkan untuk bahan pewarna, masyarakat Desa Sukarara masih menggunakan pewarna alami. Seperti kulit kayu mahoni, biji buah asam, daun sirih, dan kunyit. Namun mereka juga menggunakan benang yang sudah berwarna, untuk tenunan warna-warna tertentu.

Kain tenun songket Sukarara memiliki berbagai macam motif. Seperti motif Keker, Serat Penginang, Cungklik, dan lain sebagainya. Namun motif yang paling digemari dan menjadi ikon desa ini adalah motif “Subahnala” yang trivial. Nama motif tersebut diambil dari kata “Subahanallah”. Karena ketika menenun motif ini, para penenun sering mengucapkan kata tersebut. Sebab motif ini memiliki tingkat kesulitan yang paling tinggi, dan diperlukan waktu yang cukup lama untuk membuat tenunan bermotif Subahnala.

Dari waktu pembuatan, kain songket bermotif rumit membutuhkan waktu yang lebih lama, bisa satu bulan untuk kain berukuran lebar 60 sentimeter (cm) dan panjang 200 cm. Untuk menenun satu helai kain, rata-rata diperlukan waktu 2 minggu hingga satu bulan. Harga kain hasil tenunan kaum perempuan Sukarara ini berkisar Rp 50.000 hingga Rp 4 juta per lembar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here